Sepi saja, seperti pagi tepatnya sebelum ayam jantan berkokok girang.
Hanya ada angin yang semilir dan hawa kabut menyelimuti, pagi yang sepi.
Sepi saja, seperti siang tepatnya di saat makan siang.
Hanya ada meja, kursi, tembok di ruang kerja yang semuanya bisu, siang yang sepi.
Sepi saja, seperti sore menunggu hujan turun dan menunggu bis kota.
Hanya ada tanah becek, payung, dan halte kosong, sore yang sepi
Sepi saja, seperti malam minggu tanpa kekasih.
Hanya ada teras, novel, dan cemilan kering, malam yang sepi
Sepi saja, dari dulu juga sepi.
Kamis, 22 Desember 2011
Kamis, 13 Oktober 2011
Aku pergi, tunggu aku
Hari ini tak seperti biasanya. Baju
berwarna pastel dengan sedikit motif bunga membuat aku lebih manis dari hari
kemarin. Dipadu dengan jeans biru langit membuat tampilanku sangat feminim pagi
ini. Jilbab berwarna sama dengan bajuku seakan mempertegas bahwa hari ini aku
tampak ceria. Hari pun menyambutku dengan hangatnya. Matahari hanya sedikit
membuka mata, agar aku tidak kepanasan melewati jalan panjang menuju kantor ku.
Indahnya pagi ini, suara knalpot metromini yang selalu kunaiki tak terlalu
berisik. Padatnya lalu lintas tak terasa. Jalanan begitu lancar. Hanya saja pak
polisi yang memasang muka merajuk, karena tidak ada satupun kendaraan yang bisa
dicegatnya.
Aku sengaja duduk di samping
jendela. Aku bisa melihat gedung tinggi dan mobil yang berseliweran sepanjang
perjalananku menuju kantor. Semakin asik jika ada penyanyi jalanan dengan suara
merdunya mengiringi ku di metromini ini. Hari ini dia menyayikan lagu kesukaan
ku “pelangi”. Ternyata dia orang ambon, pantas saja suaranya mirip dengan
penyanyi sebenarnya “gleen fredly”. Wah bagusnya
!!
Tak terasa metromini sudah sampai
tepat di depan kantorku. Gedung tinggi yang sedang kutatap ini, membuat ukiran
manis dibibirku. Aku masuk dengan senyuman dan menyapa pak satpam. Dia orang pertama
yang ketemui setiap pagiku. Lift pun
terbuka dan aku pun langsung naik kelantai enam tempat dimana aku bekerja.
Meja kerja yang selalu menemaniku
tampak rapi. Disudutnya ada bingkai foto sederhana. senyuman yang ada di foto
itu membuat aku selalu bersemangat menikmati hari lelah kerjaku. Mawar berwarna
merah jambu mempercantik suasana meja kerjaku.
Jam sudah menunjukkan pukul 10
pagi. Aku pun mengintip ruang kerja bos yang tak jauh dari mejaku. Kupikir saat
ini dia tidak sibuk. Aku menghela nafas dengan cepat. Dengan keberanian aku
mengetuk pintunya. Seperti biasa, dia selalu saja tersenyum. Dia adalah
motivasi terbesarku, tak hanya itu dia juga menjadi panutan selama hidup di Jakarta
ini. Dan hari ini ini aku sedikit deg deg-an menemuinya. Dia menyapaku dengan
hangat. Dan akupun dipersilahkan duduk di sofa ruang kerjanya.
Tanpa basa basi aku menyerahkan
sepucuk surat beramplop putih. Sesaat dia membacanya, awalnya tampak sedikit
raut muka terkejut, namun perlahan terukir senyum bijaksana. Dia memberikan ku
ucapan selamat. Katanya:
“Terimakasih sudah bekerja sama selama ini,
ambil semua manfaat dan jadikan bekal dikemudian hari. Saya hanya berpesan,
kalau kamu sudah tiba di Aceh, harus menjadi orang sukses, dan saya sangat
yakin dengan itu. Titip salam buat orang tua, katakan kepada meraka kalau saya
sangat bangga terhadapmu. Oia, jangan sungkan untuk mengirimkan saya kopi aceh
ya, hehe. Sukses fika, kita akan selalu menjadi teman. Hubungi saya jika kamu
membutuhkan teman untuk bertukar fikiran. Selamat jalan”
Meja kerja yang selalu menjadi
teman ku, kini sudah bersih. Terakhir, kumasukkan bingkai foto itu. Sebelumnya,
kutatap dia sesaat, batinku berkata “sebentar lagi”. Aku sangat bahagia,
sekaligus terharu. Sudah saatnya aku meninggalkan Jakarta. Kota dimana mendidik
ku menjadi wanita dewasa. Aku pergi hari ini. Pulang ketempat asalku.
Rabu, 05 Oktober 2011
Hutan Kuning
Dulu aku sempurna. Berdiri kokoh dengan menatap matahari. Memanjamu dengan kedamaian. Kini aku tua, rapuh dan merana. menopang dengan kaki pun kurasa tak sanggup. Sungguh hidup ku kian susah. Udara segar kini menjadi asap yang pekat, kulit ku pun terlihat semakin pucat. tak pelak membuat kondisiku sama seperti dulu.
Hei kamu dengan sejuta logika yang tak memiliki rasa, coba lihat aku. padang panjang dengan bukit hijau itu kemana? Angin sejuk yang tertawa riang kenapa hilang? Itu rumah ku dan itu pelindung mu. kau bakar jiwaku dengan egoismu, kau hancurkan tubuhku dengan tawa sinismu.
Kurang sabar apa aku, semua yang ada padaku hanya untuk mu. Tapi dirimu tak pernah menyapaku, jangankan itu, untuk sekedar peduli pun kau acuh. Mata sinis mu hanya tertawa melihatku.
Kini hanya aku yang menunggu mati, dan itu ditangan mu. mungkin kelak kau sadar, di saat udara menghimpit paru mu, disaat hujan menerkam malam mu, disaat matahari membakar nadi mu. Bahwa kau butuh aku, Hutan mu!
Hei kamu dengan sejuta logika yang tak memiliki rasa, coba lihat aku. padang panjang dengan bukit hijau itu kemana? Angin sejuk yang tertawa riang kenapa hilang? Itu rumah ku dan itu pelindung mu. kau bakar jiwaku dengan egoismu, kau hancurkan tubuhku dengan tawa sinismu.
Kurang sabar apa aku, semua yang ada padaku hanya untuk mu. Tapi dirimu tak pernah menyapaku, jangankan itu, untuk sekedar peduli pun kau acuh. Mata sinis mu hanya tertawa melihatku.
Kini hanya aku yang menunggu mati, dan itu ditangan mu. mungkin kelak kau sadar, di saat udara menghimpit paru mu, disaat hujan menerkam malam mu, disaat matahari membakar nadi mu. Bahwa kau butuh aku, Hutan mu!
Selasa, 07 September 2010
DIA memberi mu Mata untuk melihat, Otak untuk berfikir, dan Hati untuk cinta
hummm.... badanku seakan ringan melangkah pagi ini.. seutas senyum sumringah terpancar dari sudut bibirku. koridor ruang kerja sedikit berisik dengan ayunan riang kaki ku. yah, hari ini cerah, secerah pesona wajahku. teringat sepotong kalimat dari seorang kiayi "Tuhan akan berkehendak sesuai dengan prasangka hambanya". singkat, namun itu yang menjadi makanan hati di setiap pagi ku. jika aku ingin hari ini bahagia, maka berfikirlah untuk bahagia. percayalah, hati akan mentransfer arti kata bahagia ke otak kita, dan otak akan merefleksikan kebahagian kita dengan rencana tak terduga.
senyum, sulit sekali untuk tidak memancarkan kebahagiaan darinya. mungkin ini yang disebut bersyukur, berterimakasih karena DIA memberikan aku mata untuk melihat, otak untuk berfikir, dan rasa untuk cinta.
ternyata, aku adalah orang yang paling beruntung di dunia, Tuhan memperlihatkan siapa-siapa dan apa-apa yang pantas dan tidak pantas untukku. meski awalnya sulit untuk menerima, memahami bahkan untuk meninggalkan, tapi kini DIA memberikan aku jawabannya.
cerdas adalah orang yang mencapai sesuatu keinginan dengan melakukan cara yang berbeda. dengan kecerdasan aku dapat memaknai keinginan ku sebenarnya. Dan sekarang hasilnya adalah bahagia serta bersyukur. aku dengan cerdas menggunakan mataku untuk melihat sesuatu yang dulu tidak tampak dan tersembunyi di balik awan kelabu di
kelopak mataku, aku menggunakan otakku untuk berfikir yang dulunya seperti jalan buntu dan aku menggunakan hati untuk menemukan cinta sebenar yang hakiki.
kelopak mataku, aku menggunakan otakku untuk berfikir yang dulunya seperti jalan buntu dan aku menggunakan hati untuk menemukan cinta sebenar yang hakiki.
Saat ini aku bahagia, senyumku tak bisa lepas dari rawut wajahku. saat ini, gunakan mata, otak, dan hati mu sesuai dengan fungsinya, dan biarkan mereka melakukan sesuatu dengan nyata tanpa batas.
cinta dan rasa baru telah datang, yang akan menemani hari ku kini. untuk esok biar tuhan berikan jawabannya nanti. dan aku.....bahagia kini ^^
Rabu, 01 September 2010
sahabat ku itu tegar sekali, aku kagum
dia adalah sahabat ku.
sejak di bangku SMP aku sudah mengenalnya, parasnya cantik, tinggi dan memiliki senyum yang indah. dia istimewa, karena dibalik keceriaanya di selalu bisa bersyukur atas yang musibah yang menimpanya.
malam itu tak biasanya aku memutuskan untuk berkunjung ke tempat tinggalnya. suasana malam itu sejuk, bahkan angin dengan lincahnya bisa menyapa wajah yang kian hari terlihat jelas akan diri kita sebenarnya, dewasa dan menua, bahkan tak berdaya. bulan sedikit menampakkan dirinya, lalu kembali bersembunyii dengan malu di balik
awan.
dirumah tak ada siapa-siapa, hanya ada aku,dia dan seorang pembantu. layaknya tuan rumah, dia menjamu ku dengan makanan kesukaan ku, durian. tak lama setelah itu, aku mengajaknya untuk sholat berjamaah, kebetulan kami berdua belum sholat isya. sholat kali ini begitu damai, karena pada awalnya aku sempat sharing ilmu tentang bagaimana cara sholat khusyuk, dimana menghadirkan Tuhan di hadapan kita.
usai sholat, kami tersenyum dan merasakan kebahagian yang luar biasa, seakan tuhan itu dekat. kami bercerita tentang keluguan masa lalu dan indahnya masa yang telah kami lewati, hingga ia bercerita tentang orang tuanya. seketika, ia terdiam namun rawut wajahnya tersenyum bahagia, ya keluarganya telah tiada. ibu, bapak, kakak sudah wafat pada kejadian tsunami yang menimpa aceh pada 24 Desember 2004 silam. dia hidup sebatang kara sejak itu, meski masih ada beberapa keluarga dekat yang masih hidup.
sulit memang untuk menjadi orang yang ditinggalkan, apalagi mereka(keluarga) pergi tanpa kata, hilang begitu saja. meninggalkannya seorang diri di perantauan. tak ada lagi hari lebaran berkumpul dengan ibu dan bapak, tak ada
lagi senda gurau dengan kakak, tidak ada lagi tempat mengeluh kesah, tak ada lagi tawa riang yang biasaya hadir disaat makan bersama, kini sudah tiada. awalnya dia tak sanggup menerima kenyataan bahwa sudah ditinggalkan, sendiri di dunia fana ini.
sempat dia bertanya pada tuhan,"kenapa harus aku?". lambat laun, dengan mulai memahami bahwa hidup itu untuk allah dan semua akan kembali padaNya, dan dia dijadikan yatim piatu di dunia karena pilihan Tuhan kepadanya. keyakinannya adalah suatu ketentuan yang diberikan Tuhan kepada hambanya karena ia adalah orang yang tepat untuk menjalaninya. Tuhan tidak akan pernah memberikan cobaan melebihi kemampuan hambanya. dan dia menyadari satu hal, bahwa tak ada yang abadi di muka bumi ini. bahkan orang yang paling menyayangi dirinya pun dapat meninggalkannya seketika.
aku mulai berfikir, bahwa tak seseorang, benda atau apapun di muka bumi ini yang dapat menjadi sandaran untuk kita. mereka itu fana, mereka itu debu yang jika di tiup akan hilang entah kemana. hidup itu ada yang datang dan ada yang pergi. disaat seseorang datang pada kita, maka wajiblah kita untuk menggembirakannya, jika sudah saatnya dia pergi, berilah kebaikan untuknya. mungkin saat ini, cinta kita terhadap makhluk, harta, jabatan sangat kita sanjungkan, bahkan melebihi cinta kita padaNya. namun itu dapat hilang dalam sekejap mata memandang. mereka akan pergi begitu saja, namun Tuhan tidak. ingatlah disaat satu langkah mu kepadaNya, maka Tuhan mu seakan berlari untuk merangkul mu. cintaNya melebihi cintamu kepada sesuatu yang kau cintai.
bersyukur dan bersabarlah kita hari ini, jam ini, menit ini, detik ini, sekarang juga. karena itulah kunci kecintaan terhadap Tuhan kita. sahabatku, aku mungkin tak setegar dirimu, dan aku percaya bahwa engkau memang pilihan. kesabaran dan rasa bersyukurmu yang menjadi pelajaran terpenting saat bertemu denganmu.
.:: terima kasih untuk Maya ^^
sejak di bangku SMP aku sudah mengenalnya, parasnya cantik, tinggi dan memiliki senyum yang indah. dia istimewa, karena dibalik keceriaanya di selalu bisa bersyukur atas yang musibah yang menimpanya.
malam itu tak biasanya aku memutuskan untuk berkunjung ke tempat tinggalnya. suasana malam itu sejuk, bahkan angin dengan lincahnya bisa menyapa wajah yang kian hari terlihat jelas akan diri kita sebenarnya, dewasa dan menua, bahkan tak berdaya. bulan sedikit menampakkan dirinya, lalu kembali bersembunyii dengan malu di balik
awan.
dirumah tak ada siapa-siapa, hanya ada aku,dia dan seorang pembantu. layaknya tuan rumah, dia menjamu ku dengan makanan kesukaan ku, durian. tak lama setelah itu, aku mengajaknya untuk sholat berjamaah, kebetulan kami berdua belum sholat isya. sholat kali ini begitu damai, karena pada awalnya aku sempat sharing ilmu tentang bagaimana cara sholat khusyuk, dimana menghadirkan Tuhan di hadapan kita.
usai sholat, kami tersenyum dan merasakan kebahagian yang luar biasa, seakan tuhan itu dekat. kami bercerita tentang keluguan masa lalu dan indahnya masa yang telah kami lewati, hingga ia bercerita tentang orang tuanya. seketika, ia terdiam namun rawut wajahnya tersenyum bahagia, ya keluarganya telah tiada. ibu, bapak, kakak sudah wafat pada kejadian tsunami yang menimpa aceh pada 24 Desember 2004 silam. dia hidup sebatang kara sejak itu, meski masih ada beberapa keluarga dekat yang masih hidup.
sulit memang untuk menjadi orang yang ditinggalkan, apalagi mereka(keluarga) pergi tanpa kata, hilang begitu saja. meninggalkannya seorang diri di perantauan. tak ada lagi hari lebaran berkumpul dengan ibu dan bapak, tak ada
lagi senda gurau dengan kakak, tidak ada lagi tempat mengeluh kesah, tak ada lagi tawa riang yang biasaya hadir disaat makan bersama, kini sudah tiada. awalnya dia tak sanggup menerima kenyataan bahwa sudah ditinggalkan, sendiri di dunia fana ini.
sempat dia bertanya pada tuhan,"kenapa harus aku?". lambat laun, dengan mulai memahami bahwa hidup itu untuk allah dan semua akan kembali padaNya, dan dia dijadikan yatim piatu di dunia karena pilihan Tuhan kepadanya. keyakinannya adalah suatu ketentuan yang diberikan Tuhan kepada hambanya karena ia adalah orang yang tepat untuk menjalaninya. Tuhan tidak akan pernah memberikan cobaan melebihi kemampuan hambanya. dan dia menyadari satu hal, bahwa tak ada yang abadi di muka bumi ini. bahkan orang yang paling menyayangi dirinya pun dapat meninggalkannya seketika.
aku mulai berfikir, bahwa tak seseorang, benda atau apapun di muka bumi ini yang dapat menjadi sandaran untuk kita. mereka itu fana, mereka itu debu yang jika di tiup akan hilang entah kemana. hidup itu ada yang datang dan ada yang pergi. disaat seseorang datang pada kita, maka wajiblah kita untuk menggembirakannya, jika sudah saatnya dia pergi, berilah kebaikan untuknya. mungkin saat ini, cinta kita terhadap makhluk, harta, jabatan sangat kita sanjungkan, bahkan melebihi cinta kita padaNya. namun itu dapat hilang dalam sekejap mata memandang. mereka akan pergi begitu saja, namun Tuhan tidak. ingatlah disaat satu langkah mu kepadaNya, maka Tuhan mu seakan berlari untuk merangkul mu. cintaNya melebihi cintamu kepada sesuatu yang kau cintai.
bersyukur dan bersabarlah kita hari ini, jam ini, menit ini, detik ini, sekarang juga. karena itulah kunci kecintaan terhadap Tuhan kita. sahabatku, aku mungkin tak setegar dirimu, dan aku percaya bahwa engkau memang pilihan. kesabaran dan rasa bersyukurmu yang menjadi pelajaran terpenting saat bertemu denganmu.
.:: terima kasih untuk Maya ^^
Minggu, 29 Agustus 2010
pohon tua di ujung taman itu
"sudah berapa lama dia disana? masih saja kokoh tegak berdiri, ntah apa yang di nanti.. mungkin ia punya janji, namun tak pernah kunjung menghampiri. panas terik matahari tak membuatnya gusar, tak ada keinginan untuk berpindah... melihatnya pun aq merasa aman, dia tempat terbaik untuk berteduh. usianya mungkin lebih tua dari ku, tapi tetap saja tegar menghadapi hari hari nya... pernah dia sesekali rapuh, namun ia tumbuh kembali mewarnai hari...pohon tua di ujung taman itu membuat ku kagum, mungkin inilah hidup... apa pun masalah mu, kuat kan diri dan tetap berdiri tegak"
surat ku untuk mama
mama
wajah mu yang selalu meneduhkan jiwaku
senyummu yang selalu membangkitkan keterpurukanku
kasih sayang mu tak pernah membuatku ragu
pelukan mu menyejukkan batinku.
mama
9 bulan engkau mengandungku
engkau pun rela mempertaruhkan nyawamu untukku
tak pernah ada pamrih di dirimu
dan engkau tak pernah mengeluh akandiriku
mama
usia mu semakin senja di telan masa
badan mu semakin ringkih untuk berdiri
kaki mu pun kian melemah untuk menopang tubuh mu
lihat mata mu mama... ku tahu engkau lelah, tapi tak pernah ada kata keluh kesah di bibirmu.
lihat bibir mu mama... ku sering melihatnya bergetar, itu karena tak pernah sedetikpun kau lupa akan dzikirmu
lihat rambut mu mama... ku lihat telah banyak beruban, itu bukti perjuangan dan lelahnya perjuangan membesarkan ku
mama
kamu adalah malaikat ku di dunia
allah yang mengatakannya padaku ketika aku masih di dalam kandungan mu
dan aku pun tak pernah gelisah karenanya
karena ku yakin, engkau akan mendidikku dan memberi bekal yang cukup jika menghadap Tuhan seketika
mama
kamu tahu aku begitu menyesal?
dulu ku pernah membuatmu menangis, sakit hati, bahkan kecewa.
AKU boleh jujur mama?
sering di setiap doa, setiap sholat aku melupakan mu, aku terlalu sibuk memikirkan masalah ku.
kamu tak pernah menyadari mama?
ada kalanya ku tak mengikuti kata-kata mu, dan akhirnya aku sadar ternyata aku salah
mama
ijinkan aq memelukmu, bersujud ditelapak kaki mu, dan menyeka air matamu
cita ku sebelum aq mati adalah ingin membahagiakan mu dan membuat mu tersenyum di pusara ku nanti
mama
jika engkau yang meninggalkan ku terlebih dahulu,
ijinkan agar ku dapat memandikan mu
ijinkan agar ku dapat mensholati mu
ijinkan agar ku dapat menguburi mu
mama
jika aku yang terlebih dahulu meninggalkan mu
ku harap kau tak menangis karena kepergianku
ku harap kau tabah disaat tanah mulai menutupi wajahku
ku harap kau orang terakhir yang meninggalkan kuburanku
mama
mari kita bersyukur
tuhan mempertemukan kita karena Dia yakin
engkau dan aq kan menjadi insan yang mulia disisiNya kelak
mari berbenah mama, waktu kita tidak panjang
mama
genggam tangan mungilku
rangkul aku di setiap kesedihanku
ijinkanku memapahmu disaat kau sulit untuk menghadapi masalahmu
mama
cinta ku untuk hati mu
sayang ku untuk jiwa mu
*NB: ma... masalah mu adalah masalah ku, atas ijin allah aku ingin membantu mu, jangan menangis mama,
aku ada disini, kini adalah waktunya, harta dan jiwa ku persembahkan untuk mu. cukup sudah air matamu,
cukup sudah hati mu terluka karena orang lain padamu, karena sesungguhnya, hatiku lebih sakit dari hatimu.
ma, tersenyumlah disaat masalah itu datang pada mu, kembalikan padaNya, ikhlaskan dan tetap bersyukur.
wajah mu yang selalu meneduhkan jiwaku
senyummu yang selalu membangkitkan keterpurukanku
kasih sayang mu tak pernah membuatku ragu
pelukan mu menyejukkan batinku.
mama
9 bulan engkau mengandungku
engkau pun rela mempertaruhkan nyawamu untukku
tak pernah ada pamrih di dirimu
dan engkau tak pernah mengeluh akandiriku
mama
usia mu semakin senja di telan masa
badan mu semakin ringkih untuk berdiri
kaki mu pun kian melemah untuk menopang tubuh mu
lihat mata mu mama... ku tahu engkau lelah, tapi tak pernah ada kata keluh kesah di bibirmu.
lihat bibir mu mama... ku sering melihatnya bergetar, itu karena tak pernah sedetikpun kau lupa akan dzikirmu
lihat rambut mu mama... ku lihat telah banyak beruban, itu bukti perjuangan dan lelahnya perjuangan membesarkan ku
mama
kamu adalah malaikat ku di dunia
allah yang mengatakannya padaku ketika aku masih di dalam kandungan mu
dan aku pun tak pernah gelisah karenanya
karena ku yakin, engkau akan mendidikku dan memberi bekal yang cukup jika menghadap Tuhan seketika
mama
kamu tahu aku begitu menyesal?
dulu ku pernah membuatmu menangis, sakit hati, bahkan kecewa.
AKU boleh jujur mama?
sering di setiap doa, setiap sholat aku melupakan mu, aku terlalu sibuk memikirkan masalah ku.
kamu tak pernah menyadari mama?
ada kalanya ku tak mengikuti kata-kata mu, dan akhirnya aku sadar ternyata aku salah
mama
ijinkan aq memelukmu, bersujud ditelapak kaki mu, dan menyeka air matamu
cita ku sebelum aq mati adalah ingin membahagiakan mu dan membuat mu tersenyum di pusara ku nanti
mama
jika engkau yang meninggalkan ku terlebih dahulu,
ijinkan agar ku dapat memandikan mu
ijinkan agar ku dapat mensholati mu
ijinkan agar ku dapat menguburi mu
mama
jika aku yang terlebih dahulu meninggalkan mu
ku harap kau tak menangis karena kepergianku
ku harap kau tabah disaat tanah mulai menutupi wajahku
ku harap kau orang terakhir yang meninggalkan kuburanku
mama
mari kita bersyukur
tuhan mempertemukan kita karena Dia yakin
engkau dan aq kan menjadi insan yang mulia disisiNya kelak
mari berbenah mama, waktu kita tidak panjang
mama
genggam tangan mungilku
rangkul aku di setiap kesedihanku
ijinkanku memapahmu disaat kau sulit untuk menghadapi masalahmu
mama
cinta ku untuk hati mu
sayang ku untuk jiwa mu
*NB: ma... masalah mu adalah masalah ku, atas ijin allah aku ingin membantu mu, jangan menangis mama,
aku ada disini, kini adalah waktunya, harta dan jiwa ku persembahkan untuk mu. cukup sudah air matamu,
cukup sudah hati mu terluka karena orang lain padamu, karena sesungguhnya, hatiku lebih sakit dari hatimu.
ma, tersenyumlah disaat masalah itu datang pada mu, kembalikan padaNya, ikhlaskan dan tetap bersyukur.
Langganan:
Postingan (Atom)