Selasa, 06 Maret 2012

Bebas saja

Tak ada yang berubah,
Seperti ini aku, seperti ini jiwaku.
Bebas, lepas, dan sesuka ku.
Hidup tanpa batas.

Aturan itu memuakkan, bagiku
Apa gunanya itu?
Tak lebih dari penjara.
Melangkah saja perlu ini itu.

Mereka saja yang lakukan, bukan aku.
Atau kamu, ya kamu yang buat aturan itu.
Bagaimana adilkan?
Coba kau lakukan, dan kemudian nikmati aturan mu sendiri.

Aku?
Sudah aku bilang.
Hidup ku tanpa batas.
Bebas, lepas, dan sesuka ku.
Seperti ini aku, seperti ini jiwaku.
Tak ada yang berubah.




Jumat, 27 Januari 2012

Jumat itu Spesial

Iya, memang jumat itu spesial, tapi ga pake daun bawang ama seledri ya, sambalnya yang banyak, ahahah... ini bukan tukang bakso kaliiiiiii #huhhah.  Dia itu spesial karena menurut teman saya @onossel, hari jumat adalah hari dimana bumi pertama kali diciptakan. Dan kata ibu-ibu tetangga ku dibandung, kalau kamu lahirnya hari jumat, kamu akan susah di guna-guna #eh #apadeh (percaya atau tidak).

Ya jumat, hari dimana banyak orang menyambutnya dengan ceria, ga ada alasan lain, karena weekend telah tiba, betulkan? hehe.


Yang jelas Jumat itu adalah hari lahir ku kedunia, tepat di subuh hari saat mentari masih malu-malu membukakan matanya, saat embun pagi membasahi dunia. Dan aku inginkan Jumat juga hari istimewaku yang lainnya. Hari dimana kamu meminangku dengan bismillah *berasa kae di film deh hehe. Dan semoga hari terakhirku di dunia juga hari Jumat, karena jumat adalah hari baik, khususnya buat ku. Amin,

Kamis, 26 Januari 2012

Cut Abang #2

Baju Koko putih dengan kupiah hitam ditambah sajadah biru itu belum seberapa teduh dirimu bila kupandang. Wajahmu ternyata lebih sejuk dan seukir senyum kau menyapa kaum mu. Hemm... aku harus lebih menundukan hati kalau begini ceritanya, hehe. Aku hanya ingin menatapmu puas tanpa berkedip dan mungkin tidak bernapas seperkian detiknya. Iya, itu disaat hijab sudah dibuka, dan kata-kata Qabul sudah di kumandangkan pada semesta raya.

Entah mengapa aku suka hari jumat. Mungkin karena aku dilahirkan di hari jumat, atau karena kamu tampak selalu istimewa di hari ini. Mungkin saja kita akan bertemu di hari jumat.. #eh #bolehjadi. Yang jelas, setiap Jumat kamu tampak lebih dewasa, bahkan dari jumat sebelumnya. Wajahmu semakin berseri, kalah deh yang namanya Edward Cullen #pastinya.

oia, jangan lupa makan siang dan selamat bekerja. Nanti malam kita ketemu lagi ya, bangunkan aku.




teruntuk,

Kamu, Pria ku :)


Aku bukan halte busway, tapi terminal lebak bulus

Kamu datang dan pergi begitu saja. Memangnya aku ini halte? *cihh. Iya kamu datang ketika hujan lebat atau panas menyengat. kalau cuacanya bagus, kamu pergi lagi. apa-apaan kamu !!!

Hei tolol, aku ini terminal, bukan halte, tempat singgah. Aku tempat kamu memutuskan kemana kamu akan pergi. Sanaa pergi ke pohon rindang di samping abang penjual buku bekas itu. berteduh saja disitu. Kali aja kamu bisa baca buku bekas itu. ya orang-orang bekas seperti mu pantas disana. Orang yang belum kemana tujuan hidupnya.

Aku ingatkan ya, kalau kamu sudah tau mau kemana, boleh kamu menemuiku, disini.


Dasar tukang singgah


Cut Abang #1

Hei sudah pagi

Kamu sudah bangun? pasti lelah. terlihat jelas dari kantung mata mu yang semakin hitam dan sayu itu. Tapi aku suka. Kamu terlihat lebih manja pagi ini.

Oia, semalam aku memimpimu, duduk bersimpu di atas sajadah tua. Serius sekali percakapan mu dengan Tuhan, aku tak berani menguping, takut mengganggu mu. Tapi hati ku senang, Aku sempat mendengar sedikit ceritamu. Kamu sempat membicarakanku denganNya, benar kan? hihi.

Kamu ingin menjadi yang terbaik untukku, menghargai, mencintai, menyayangi, memenuhi semua kebutuhanku lahir dan batin. Hei... aku percaya padamu. Sebagaimana aku percaya pada Tuhan ku, bahwa dia akan mengirimkan yang terbaik itu padaku, dan itu kamu.

Cepatlah datang ya, aku menunggu. Di Mesjid Raya itu, tempat dimana kau akan meminangku.



Teruntuk,

Kamu, Pria ku :)




Kamis, 22 Desember 2011

Dari dulu sepi

Sepi saja, seperti pagi tepatnya sebelum ayam jantan berkokok girang.
Hanya ada angin yang semilir dan hawa kabut menyelimuti,  pagi yang sepi.

Sepi saja, seperti siang tepatnya di saat makan siang.
Hanya ada meja, kursi, tembok di ruang kerja yang semuanya bisu, siang yang sepi.

Sepi saja, seperti sore menunggu hujan turun dan menunggu bis kota.
Hanya ada tanah becek, payung, dan halte kosong, sore yang sepi

Sepi saja, seperti malam minggu tanpa kekasih.
Hanya ada teras, novel, dan cemilan kering, malam yang sepi

Sepi saja, dari dulu juga sepi.



Kamis, 13 Oktober 2011

Aku pergi, tunggu aku


Hari ini tak seperti biasanya. Baju berwarna pastel dengan sedikit motif bunga membuat aku lebih manis dari hari kemarin. Dipadu dengan jeans biru langit membuat tampilanku sangat feminim pagi ini. Jilbab berwarna sama dengan bajuku seakan mempertegas bahwa hari ini aku tampak ceria. Hari pun menyambutku dengan hangatnya. Matahari hanya sedikit membuka mata, agar aku tidak kepanasan melewati jalan panjang menuju kantor ku. Indahnya pagi ini, suara knalpot metromini yang selalu kunaiki tak terlalu berisik. Padatnya lalu lintas tak terasa. Jalanan begitu lancar. Hanya saja pak polisi yang memasang muka merajuk, karena tidak ada satupun kendaraan yang bisa dicegatnya.

Aku sengaja duduk di samping jendela. Aku bisa melihat gedung tinggi dan mobil yang berseliweran sepanjang perjalananku menuju kantor. Semakin asik jika ada penyanyi jalanan dengan suara merdunya mengiringi ku di metromini ini. Hari ini dia menyayikan lagu kesukaan ku “pelangi”. Ternyata dia orang ambon, pantas saja suaranya mirip dengan penyanyi sebenarnya “gleen fredly”.  Wah bagusnya !!
Tak terasa metromini sudah sampai tepat di depan kantorku. Gedung tinggi yang sedang kutatap ini, membuat ukiran manis dibibirku. Aku masuk dengan senyuman dan menyapa pak satpam. Dia orang pertama yang ketemui  setiap pagiku. Lift pun terbuka dan aku pun langsung naik kelantai enam tempat dimana aku bekerja.

Meja kerja yang selalu menemaniku tampak rapi. Disudutnya ada bingkai foto sederhana. senyuman yang ada di foto itu membuat aku selalu bersemangat menikmati hari lelah kerjaku. Mawar berwarna merah jambu mempercantik suasana meja kerjaku.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Aku pun mengintip ruang kerja bos yang tak jauh dari mejaku. Kupikir saat ini dia tidak sibuk. Aku menghela nafas dengan cepat. Dengan keberanian aku mengetuk pintunya. Seperti biasa, dia selalu saja tersenyum. Dia adalah motivasi terbesarku, tak hanya itu dia juga menjadi panutan selama hidup di Jakarta ini. Dan hari ini ini aku sedikit deg deg-an menemuinya. Dia menyapaku dengan hangat. Dan akupun dipersilahkan duduk di sofa ruang kerjanya.
Tanpa basa basi aku menyerahkan sepucuk surat beramplop putih. Sesaat dia membacanya, awalnya tampak sedikit raut muka terkejut, namun perlahan terukir senyum bijaksana. Dia memberikan ku ucapan selamat. Katanya:

 “Terimakasih sudah bekerja sama selama ini, ambil semua manfaat dan jadikan bekal dikemudian hari. Saya hanya berpesan, kalau kamu sudah tiba di Aceh, harus menjadi orang sukses, dan saya sangat yakin dengan itu. Titip salam buat orang tua, katakan kepada meraka kalau saya sangat bangga terhadapmu. Oia, jangan sungkan untuk mengirimkan saya kopi aceh ya, hehe. Sukses fika, kita akan selalu menjadi teman. Hubungi saya jika kamu membutuhkan teman untuk bertukar fikiran. Selamat jalan”

Meja kerja yang selalu menjadi teman ku, kini sudah bersih. Terakhir, kumasukkan bingkai foto itu. Sebelumnya, kutatap dia sesaat, batinku berkata “sebentar lagi”. Aku sangat bahagia, sekaligus terharu. Sudah saatnya aku meninggalkan Jakarta. Kota dimana mendidik ku menjadi wanita dewasa. Aku pergi hari ini. Pulang ketempat asalku.